Mengalir

Hari ini sepi dalam lamunan berdiri

Mamatung berharap doa akan terus mengalir

Hingga aku beranjak kepada arah yang berbeda dengan air

Mengalir namun tak tahu sampai mana tepi ini berakhir.

Dengan Tetap

Aku Bertaruh Padamu Setidaknya Dua Hal

Egoku Dan Juga Anganku

Namun Semua Belumlah Cukup Untukmu

Aku Dapat Kabar Dari Rindu

Esok Hari Kita Kan Bertemu

Semoga Engkau Tidak Seperti Itu

Dengan Tatap Namun Tetap

Tak Perduli Padaku

Terima Kasih Walau Pilu

Setidaknya Aku Mampu

Dengan Tetap Namun Retak

Bandung dan Goresan

Perjalanan menuju bandung

Secarik kertas kosong tanpa pena

Menanti goresan-goresan pengalaman

Aku menanti di sudut jendela berembun

Berharap sampai tujuan dengan selamat

Apakah dunia benar binar dengan bias

Akankah harapan hidup dalam cahayanya

Suara pengasong nampak penuh keyakinan

Dengan senyum dan semangat yang ia kembangkan

Sabar adalah kunci yang ia teguhkan

Yang pasti hanya ketidak pastian

Cerita itu pun ia suguhkan

Ada dalam bait yang baik selalu sulit

Ada dalam kisah yang kasih selalu asih

Ada dalam kenang yang hilang menjadi bayang

Ada dalam hidup yang luka menjadi biasa

Bandung sore itu yang terang

Sangat romantis bila tanpa tapi

Berharap akan segala harapan

Hidup dalam keyakinan

Bandung ,26 September 2018

Meretas Fenomena Kesepian Bagi Mahasiswa Organisatoris

Dalam artikel ini memuat begitu banyak paradoksalitas jika ditelaah secara saksama. Ya mahasiswa organisatoris tentunya punya banyak teman karena dia berada di lingkungan yang memiliki hubungan pertemanan untuk bersama-sama meraih suatu tujuan organisasi. Namun bila membahas kesepian tentunya tidak hanya menyangkut teman, karena dalam organisasi tak sepenuhnya pertemanan dapat dihidangkan dengan suasana natural sebagaimana mestinya. karena kepenatan rutinitas rapat dan proker yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan organisasi yang diharuskan menjalankan tugas secara profesional yang kerap memakan waktu berkualitas dengan teman-teman tak jarang menyebabkan hilangnya relasi untuk saling berempati satu sama lain.

Akan tetapi ada hal yang kerap menjadi bayang-bayang yang menyebabkan mahasiswa hari ini banyak kehilangan relasi. Bagi mahasiswa yang  tak paham peran dan fungsi organisasi untuk beberapa orang organisasi dimanfaatkan untuk kepentingan popularitas semata, ada yang ingin mendapat pacar bahkan ada yang ingin mendapat suatu jabatan. Hal tersebut yang menimbulkan banyak hubungan relasi terjadi demi sebuah kepentingan dan kebutuhan bukan karena keinginan semata. Relasi yang dijalan dengan hal itu akan menimbulkan banyak friksi dan kepalsuan.

Untuk segelintir mahasiswa yang menekuni lebih dalam organisasi, dengan rutinitas yang sangat padat maka kesepian adalah hal yang integral didalamnya. Bahkan tak jarang ketika banyak teman dan anggota mereka tak dapat memiliki waktu untuk saling berbagi satu sama lain yang menimbulkan kesenjangan dalam suatu lingkungan yang tidak lagi harmonis sesama anggota organisasi. Karena hal ini  tak jarang terjadi pertengkaran dalam relasi pertemanan karena kurangnya rasa saling memahami ketika menjalani segala rutinitas organisasi.

Bagi kalangan muda kesepian mungkin kerap dihubungkan dengan ketiadan pasangan dalam kehidupan, namun kespian mungkin saja bukan disebabkan oleh hal lain diluar itu, kesepian kerap melanda sesorang ketika suatu hubungan sosial yang dibutuhkan tidak sesuai dengan hubungan sosial yang mereka jalani dalam kehidupan. Kejadian ini banyak menimpa mahasiswa organisatoris. Bayangan mereka ketika masuk organisasi adalah mendapatkan banyak teman dan relasi kadang tak sesuai dengan yang dihadapi dalam organisasi, kadang pertemanan terjalin dalam organisasi hanya karena kepentingan dan kebutuhan bukan karena keinginan untuk menjalin suatu relasi yang baik. Dengan seperti itu banyak kasus dalam organiasi yang sebelumnya memiliki hubungan perteman menjadi senggang bahkan yang lebih parah memutuskan tidak berteman karena ketidak sesuaian pemahaman dalam organisasi hal ini lumrah terjadi bagi sebuah organisasi mahasiswa. Mampus kau dikoyak-koyak sepi~

Oke mari kita bahas lebih jauh mengenai persoalan kesepian, John Santrock mengatakan bahwa kesepian adalah ketika merasa bahwa tidak seorang pun memahami dengan baik, merasa terisolasi, dan tidak memiliki seorang pun untuk dijadikan pelarian, saat dibutuhkan atau saat stress. bagi kalangan mahasiswa  organisasi hal ini mungkin bukan hal yang harus diperhatikan lebih dalam terutama dalam kegiatan keorganisasian yang ada, namun jika dikaji lebih dalam lagi persoalan yang ada dalam organisasi berasal dari kurangnya relasi satu sama lain sesama anggota yang menjadi penyebab minimnya progresifitas kerja. sukarnya menyadari bahwa yang ada dalam organisasi  adalah manusia yang ketika berkumpul harus melakukan interaksi serta relasi bukan hanya pertemuan yang dilandaskan hubungan kerja semata. Dalam keramaian suatu perkumpulan organisasi banyak yang saling acuh dan hanya melintas dalam suatu relasi bukan untuk menjalin lebih banyak keakraban dan kenyamanan. Ada kebutuhan kau teman ku tak ada kebutuhan kau bukan siapa-siapa ku~

Kesepian memang menyedihkan terlebih ketika hari-hari dihabiskan dengan menyelesaikan tenggat laporan kuliah, laporan proker, dan rapat ditambah tugas dan tanggung jawab selaku mahasiswa. Tapi kesepian bukan untuk dijadikan hal untuk mengeluh, oleh karenanya bagi mahasiswa harus cerdas membangun suatu relasi yang baik agar segala bentuk friksi yang terjadi dalam organisasi maupun pertemanan dapat disikapi dengan bijak dan semestinya. Karena tugas dan mahasiswa banyak disamping harus membanggakan orang tua dirumah mereka juga harus tanggap dan peka terhadap keadaan sosial yang ada. Bangunlah relasi yang dimiliki untuk kepentingan banyak orang, untuk kemajuan bangsa dan Negara karena mahasiswa memiliki beban moral sebagai agen untuk perubahan.

Hidup Mahasiswa!

Kosong

Ruang tunggu yang kosong

tiada lalu-lalang

Semua hampa

yang nampak hanya sepi

Sendiri begitu menyenangkan

Bila yang ramai

Hanya hal yang Fana

Tentunya tak abadi

Walaupun tiada yang pasti

Masa lalu terus menanti

Pernah ga ?

Pernah ga sih kalian ngerasa orang-orang sekitar kalian ga ngerti apa yang kalian rasakan ? atau yang lain pura-pura ga peduli dengan apa yang kalian rasakan ? akhir-akhir ini saya ngerasa orang-orang gapernah mau peduli dengan apa yang saya rasakan. 2 tahun tinggal dengan orang-orang yang berasal dari berbagai suku dan budaya dalam secretariat organisasi bukan hal yang mudah dan hampir sedikit celah untuk memiliki masalah privasi maupun kebutuhan pribadi.

Ya memang judul curahan hari ini adalah kebutuhan untuk memiliki kostan atau kamar sendiri. Saya pikir keegoisan saya hari ini banyak disebabkan kurangnya waktu saya untuk mengenal lebih jauh pribadi saya. Bahkan saya hamper tidak tahu bagai mana sifat dan watak saya yang sebenarnya, banyaknya kritikan cacian dan pula masukan kadang menjadikan bias dalam diri saya, banyak yang saya sembunyikan dan banyak pula yang saya tahan untuk berekspresi sesuai dengan keingan saya. Mungkin itu yang banyaknya mempengaruhi kenapa kadang saya berlaku egois akhir-akhir ini.

Saya benci dengan keadaan ini, saya benci dengan ketidak bebasan ini, saya benci dengan kebohongan dan klise yang selalu saya lakukan demi mewujudkan keingan orang lain. Saya ingin menjadi diri saya sendiri yang bebas, ceria dan positive. Saya lelah dengan semua ini kadang saya merasa saya butuh waktu sendiri untuk bergumul dengan segala keingan yang tak tertandaskan dalam diri ini. Banyak harapan yang hilang namun hancur karena keadaan, semangat yang hilang dengan bias kesedihan.

Lantas apa yang saya harus perbuat ? ibarat buah simalakama dengan keadaan saya yang sekarang ini. Mudah bagi saya membenci orang-orang yang tidak bisa mengerti keadaan dan perasaan saya. Keadaan inilan yang memicu banyaknya kontrofersi bagi diri saya yang banyak mengundang kritikan dari berbagai pihak. Bahkan berat bagi saya rasanya untuk berbuat baik tanpa ada embel-embel. Sulit memang menjadi orang yang ihklas.

Melihat berbagai capaian yang telah saya dapatkan dalam organisasi ini tak lantas menjadikan bahwa saya senang dengan keadaan saya yang seperti ini. Saya butuh teman untuk bercerita tentang berbagai keluh kesah kehidupan saya. Saya butuh orang yang pandai mendengar dan merasa dari apa yang saya rasakan hari ini. Saya memang tak pandai merangkai kata-kata menjadi sebuah anak panah yang mampu melakat pada tujuannya, saya memang tak pandai untuk menjadi pendengar bagai air yang selalu mengalir sesuai celahnya. Hari-hari esok selalu saya nantikan untuk berharap saya dapat menjadi diri saya sendiri, hari-hari esok adalah pengharapan bagi hari ini yang tidak ubahnya ujian yang selalu menghantui.

Pilu bagaikan pil pahit bila mengingat hal-hal yang sedang saya alami, kebahagian mungkin sangat mahal bagi saya. serangkai kata manispun tak ubahnya hanya sebuah bualan atau omong kosong belaka ketika rasa yang saya hadapi seperti saat ini.

Pengen Cerita Aja

Akhir-akhir ini hidup yang aku jalani sering menjadi sorotan orang lain, bukan karena aku orang yang penting namun status yang aku sandang sebagai seorang nahkoda kapal a.k.a Ketua Umum organisasi. Kondisi yang di alami oleh organisasi ku sedang mengalami tahap dinamika pendewasaan dalam organisasi, baik dari kinerja maupun dari perkembangan setiap perorangan anggota yang ada di dalamnya. Kritik demi kritikan mereka arahkan kepadaku karena memang ketualah yang bertanggung jawab secara keseluruhan jalannya roda organisasi.

Hal ini berbeda jauh dengan hidup yang aku jalani mungkin 2-3 tahun lalu yang bebas dan senang berimprovisasi dengan potensi yang aku miliki. Pertama menjadi seorang ketua organisasi bagi ku adalah tantangan baru yang ingin aku coba tempuh dari setitik potensi yang aku percaya bahwa aku bisa menjadi seorang pemimpin, namun hal itu bukanlah hal yang mudah. Memimpin banyak orang dengan latar belakang yang berbeda dan pemikiran yang berbeda adalah hal yang paling sulit untuk aku lakukan sampai detik ini sudah setahun aku menjabat sebagai seorang ketua. Lalu dalam perjalanan organisasi yang aku jalani banyak masalah yang menghampiri tiada henti. dimulai dari masalah keluarga, kuliah, pertemanan , hingga asmara mewarnai perjalanan menjadi seorang ketua umum. Hal ini yang menjadi penguat pribadi yang aku miliki, hal ini yang membuat potensi-potensi lain yang aku miliki mulai terlihat, namun manusia tidaklah sempurna bukan ? banyak kekurangan dalam pribadi yang aku miliki yang mengundang banyak kritik maupun protes dari anggota organisasi. Hingga aku mulai merasa bahwa hidup ini adalah rintangan yang tidak ada habisnya dan kita ada peserta dari haling rintang tersebut.

Dalam hal menjadi ketua masalah keluarga yang banyak mengubah dan mempengaruhi ku dalam bertindak maupun bersikap, karena banyak tekanan dari masalah keluarga sehingga tak jarang perlakuanku bukan atas organisasi akan tetapi pribadi yang banyak menjadi kritikan pedas anggota. Satu hal yang pasti masalah organisasi yang aku hadapi kali ini tidaklah sepadan dengan masalah orang tua yang mereka hadpi tentunya. Oleh karenanya kadang aku masih bisa mengimbangi masalah tersebut.

Bagiku masalah terberat adalah masalah asmara, bukan karena aku baperan ataupun aku ingin sekali menjalin hubungan. Namun ketika masalah asmara itu dating persoalan demi persoalan banyak menghampiri. Dari semula aku orang yang periang hingga menjadi murung karena masalah tersebut hal ini sulit untuk aku bagikan kepada siapapun karena konsekuensi menjadi seorang ketua adalah tidak boleh lemah dihadapan anggotanya namun faktanya aku lemah soal asmara. Hingga kini wanita yang aku cintai masih sering terlintas dan masih sering menjadi perhatian bagiku. Walapun beberapa waktu lalu aku sempat menjalin hubungan dengan wanita lain namun berbeda rasanya dengan wanita yang aku cintai sebelumnya.

Jatuh dan bangkit menjadi proses yang siklus dalam hidup. sebagai ketua organisasi saat ini bahkan aku ada dalam satu titik dimana keduanya datang bersamaan dengan masalah yang berbeda. Rumit memang menjelaskan apa yang aku rasakan saat ini bahkan teman-teman dekatkupun sulit untuk memahaminya sebagai suatu masalah yang bisa mereka pahami. Maka aku setuju bahwa masalah seorang ketua umum hanya seorang ketua umum yang lainnya yang mampu memahaminya, bukan karena ini sulit, lebay ataupun rumit namun posisi yang sedang aku hadapi saat ini menuntut kita menyembunyikan segala originalitas yang ada dan menampilkan kepalsuan-kepalsuan dari diri kita yang diinginkan oleh mereka.

Kadang dorongan dan semangat yang selalu di berikan kepadaku yang menjadikan motivasi lebih untuk mengarungi derasnya ombak dinamika organisasi saat ini jujur tulisan ini aku buat dikala saat ini aku tidak memiliki orang yang mampu berbagi rasa dan cerita dalam hidupku. Baik diriku selaku Dendinar maupun ketua organisasi. Padahal wanita yang aku cintailah sebelumnya yang dapat melakukan hal itu kepadaku namun kadang hidup tidak sesuai dengan yang kita dambakan but life must go on. Semoga kamu yang membacanya bisa paham dan merasakannya.